Selasa, 03 April 2018

Gunung Agung Status Awas, BNPB Pastikan Pariwisata Bali Goa Gajah Ubud Tetap Aman

Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) memastikan tempat-tempat wisata di Bali tetap aman meski Gunung Agung terjadi peningkatan status menjadi awas. Semua tempat wisata sangat aman dan tidak terpengaruh.

Tanah Lot, Uluwatu, Danau Beratan Bedugul, Istana Tampak Siring, semuanya aman. Begitu juga Bali Safari dan Marine Park, Garuda Wisnu Kencana, Pantai Sanur, Tanjung Benoa, Goa Gajah Ubud, Kawasan Nusa Penida, Pantai Kuta tetap aman.

Wisatawan tetap bisa menikmati segala aktivitasnya. Menikmati keindahan pantai di Bali, keramahan masyarakatnya, dan budayanya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers Kemenpar, Sabtu (23/9/2017) mengatakan, memang benar bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung di Kabupaten Karangasem meningkat.

Sejak pukul 00.00-12.00? Wita pada Jumat (22/9/2017), telah terjadi 58 gempa vulkanik dangkal, 318 kali gempa vulkanik dalam, dan 44 jali gempat tektonik lokal.

Namun dengan peningkatan ini semua tempat wisata di Bali tidak akan terpengaruh dan dipastikan aman. Begitu juga dengan aktivitas di Bandara Ngurah Rai. Semuanya tidak terpengaruh. Penerbangan, baik domestik maupun internasional masih berjalan lancar.

Rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) adalah masyarakat di sekitar Gunung Agung sehingga pendaki atau pengunjung juga wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam area kawah Gunung Agung.

Mereka diminta tidak beraktivitas di seluruh area di dalam radius enam kilometer dari puncak Gunung Agung atau elevasi di atas 950 meter dari permukaan laut dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 9 kilometer.

"Di dalam radius ini tidak boleh ada wisatawan atau aktivitas masyarakat di dalamnya," kata Sutopo.

Ia pun menyayangkan adanya pemberitaan berlebihan atau bahkan informasi menyesatkan yang beredar di masyarakat sehingga menimbulkan kecemasan di masyarakat. Bahkan masyarakat Bali sendiri ada sebagian yang ikutan panik.

"Hingga saat ini kondisi pariwisata di Bali masih aman untuk dikunjungi, kecuali di dalam radius yang dilarang oleh PVMBG untuk melakukan aktivitas di sekitar Gunung Agung. Jadi tempat wisata di Bali masih aman. Silakan masyarakat tetap berkunjung untuk menikmati indahnya alam, budaya, kuliner dan lainnya di Pulau Dewata. Pemerintah pasti akan menyampaikan peringatan dini dan informasi yang akurat ketika ada ancaman terhadap masyarakat," kata Sutopo.

Sebelumnya Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga memastikan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Agung tidak mengganggu pariwisata di Bali.

Gubernur pun meminta berbagai pihak untuk tidak membuat berita yang belum tentu tepat kebenarannya. Sebab Bali merupakan tujuan wisata nasional dan dunia.


“Karena itu apa pun yang terjadi di Bali pasti akan menjadi perhatian,” ujar Made Mangku Pastika.

Hal senada dikatakan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Ia meminta wisatawan tidak pernah takut untuk datang ke Bali saat ini. Semua tempat wisata di Bali dalam kondisi aman. Hanya daerah tertentu yang dekat dengan Gunung Agung yang melarang aktivitas warga atau bahkan wisatawan.
“Tetap nikmati Bali. Rasakan kehangatan sinar matahari. Bayangkan deburan ombak dan keindahan sunset-nya. Rasakan keramahan masyarakat dan keindahan budaya Bali,” ujar Arief Yahya.

Dian Suci Rahmawati, Proyeksi Diri dalam Seni Rupa Tugu Jogja Malam Hari

Banyak cara dilakukan orang untuk mengekspresikan perasaan dan isi hatinya, tak terkecuali bagi ibu rumah tangga yang juga seorang pelukis Dian Suci Rahmawati. 

Ultramanminmun a.k.a Dian Suci Rahmawati adalah ilustrator yang kebanyakan karyanya menggunakan figur diri sendiri sebagai model yang diilustrasikan. Selain kebanyakan berasal dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ilustrasinya cenderung hitam putih dengan fokus pada bahasa tubuh dan pose. 

Beberapa kali ibu 3 anak ini melakukan pameran atas berbagai karya yang ia buat. Terakhir Dian mengikuti pameran kolektif di Tugu Jogja malam hari Contemporary pada Desember tahun 2017. “Waktu itu aku membuat pidatonya Soeharto tentang dharma wanita dengan benang yang aku susun ke dalam tulisan,” ujar Dian saat ditemui dalam pembukaan pameran tunggalnya di Kedai Kebun Forum, Turtodipuran, Kota Yogyakarta, Senin (19/3).
Instalasi pidato yang ia buat berkisah tentang bagaimana pemerintahan Orde Baru membentuk perempuan-perempuan dharma wanita yang hanya berkegiatan di ranah domestik. Dan pada akhirnya Dian memilih media benang berwarna merah yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
Tidak hanya sampai di situ, perempuan kelahiran Kebumen ini lantas meneruskan kecintaannya pada seni dengan membuat pameran tunggal yang berisi karya lukisnya. Dalam acara ini, Dian menampilkan karyanya melalui beberapa lukisan yang dibingkai dalam frame dan melalui mural yang ia kerjakan selama kurang lebih satu bulan. Media yang ia gunakan selain kertas dan drawing pen, Dian juga kerap menggunakan acrylic, cat air, dan kanvas.
Mengambil tema ‘Aku Pingin Crita Dawa--Nanging Apa Kowe Kuwawa? Aku Kuwawa? (Aku ingin cerita panjang. Tapi apakah kamu sanggup? Aku sanggup?)’ adalah sebuah karya yang menceritakan tentang percakapan seorang perempuan dengan dirinya sendiri tentang banyak hal yang sejatinya tak pernah tunggal. Dian mengambil sebuah ruang yang begitu kita kenal: rumah, pekarangan, halaman belakang, yang ia jadikan sebagai ruang tumpah ide.
Melalui gambar-gambarnya, Dian seperti hendak bercerita panjang meski ia tidak sanggup atau setidaknya merasa tak sanggup. Ia juga meragukan apakah ada yang sanggup mendengarkannya, karenanya ia memilih bentuk solilokui yang merupakan gaya penulisan yang sangat bersifat personal berisi renungan, pengakuan, dan kontemplasi untuk dirinya sendiri.
“Ini sebenarnya caraku dalam menggambarkan seorang perempuan dengan segala yang terjadi dalam ranah domestiknya,” ujar Dian.

Perempuan lulusan Design Arsitektur, UII ini memaparkan bahwa dirinya merupakan bagian dari perempuan yang masih memegang pakem-pakem yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Baginya, ada beberapa hal dalam ranah domestik yang masih tabu untuk disuarakan ataupun sekadar diceritakan kepada orang lain.
“Aku bukan perempuan yang bisa speak up ketika mengalami sebuah keadaan tertentu. Jadi melalui karya seperti inilah aku mencoba untuk menunjukkan kepada orang lain bagaimana wajah perempuan di ranah domestik,” papar Dian.
Pameran ini merupakan kali pertama Dian memajang hasil karyanya di Kedai Kebun Forum (KKF). Tempat ini ia jadikan sebagai rumah keduanya setelah dengan perannya sebagai ibu dari 3 orang anak, untuk menorehkan ide ataupun gagasan dalam sebuah karya. Dalam ruang pameran tersebut, Dian mengambil posisi favorit di sebuah sudut dan menghadap sebuah jendela di depannya. Seakan mempunyai dunianya sendiri, posisi duduk yang membelakangi ruang pameran menunjukkan sisi tertutupnya dengan ide yang sedang digarap dari pengaruh-pengaruh seniman lain yang kadang berkunjung di ruang pameran tersebut.
“Aku orangnya pemalu mbak, ngomong di depan orang lebih dari tiga menit aja aku malu,” ujar perempuan berusia 32 tahun ini. 
Karya ilustrasi Dian yang lain bisa ditemui di sampul buku ‘Sejumlah Perkutut Buat Bapak’ karya Gunawan Maryanto dan ‘Dua Tangisan pada Satu Malam’ karya Puthut EA.
Event pameran ini resmi dibuka pada hari Senin (19/3) malam dengan menampilkan Gunawan Maryanto, Prihatmoko Moki, dan Febrian Mohammad. Bertempat di Ruang Galeri Kedai Kebun Forum, Turtodipuran, Kota Yogyakarta pameran ini terbuka untuk umum dan gratis dan akan diadakan sampai dengan tanggal 9 April 2018.

Kamis, 23 Maret 2017

Kini Restoran Di Surabaya - Lampung Terbang Langsung, Cukup 90 Menit dengan Maskapai ini

Kini penumpang dari Surabaya bisa terbang langsung ke Lampung tanpa transit Jajakarta.

Sriwijaya Air dengan Boeing 737 series meluncurkan rute baru Surabaya-Lampung direct di Bandara Juanda, Rabu (23/3/2017).

Peluncuran ini ditandai dengan pemotongan tumpeng bersama direksi Sriwijaya Air, Manajemen PT Angkasa Pura 1 Juanda, Airnav, dan Otoritas Bandara.

"Ini adalah penerbangan perdana dan baru satu-satunya maskapai yang direct Surabaya-Lampung," jelas Manajer Distrik Sriwijaya Air Surabaya, Hendrika Herdiansyah.

Selama ini, penerbangan dari Surabaya ke Lampung harus transit dulu di Jakarta. Sangat tidak efisien karena hanya menunggu dua sampai tiga jam.

Baru setelahnya dilanjutkan penerbangan ke Lampung memakan waktu 30 menit.

Jadi Surabaya-Lampung selama ini bisa 4,5 jam.

"Kalau terbang direct begini efisien waktu. Penerbangan ke tujuan cukup 90 menit atau 1,5 jam," kata Hendrika.

Faktor Efisien waktu ini disebut sangat beharga. Selain itu juga efisien biaya kalau terbang langsung.

Jika selama ini terbang ke Lampung transit Jakarta harga tiket sekitar Rp 900.000. Sedangkan direct harga tiket sekitar Rp700.000.

Latini, salah satu penumpang yang hendak balik ke Lampung dari Surabaya mengaku senang karena restoran di Surabaya hemat waktu dan biaya.

"Susahnya kalau transit lama di Jakarta," ujarnya.